Friday, May 15, 2015

Komunikasi Antar Pribadi




PENGARUH TAYANGAN KEKERASAN DI TELEVISI TERHADAP
PERKEMBANGAN PERILAKU DAN KOMUNIKASI ANTARPRIBADI REMAJA

Oleh

Nama              :Ayu Ika Dhanny
NPM                 : 1416031032

Mata Kuliah  : Komunikasi Antar Pribadi




ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015



LATAR BELAKANG

          Dewasa ini televisi boleh dikatakan mendominasi hampir semua waktu luang setiap orang. Televisi merupakan media elektronik yang mempunyai sejumlah kelebihan, terutama kemampuannya dalam menyatukan antarfungsi audio dan visual, ditambah dengan kemammpuan yang memainkan warna. Sehingga televisi mampu menyebarkan berita secara cepat dan memiliki kemampuan mencapai khalayak dalam jumlah tak terhingga pada waktu yang bersamaan. Televisi dengan berbagai acara yang ditayangkannya telah mampu menarik minat pemirsanya dan membuat pemirsanya ketagihan untuk selalu menyaksikan acara-acara yang ditayangkan. Bahkan bagi anak-anak sekalipun sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas kesehariannya dan sudah menjadi agenda wajib bagi sebagian besar remaja.
Dengan berbagai acara yang ditayangkan mulai dari infotainment, entertainment, iklan, sampai pada sinetron-sinetron dan film-film yang berbau kekerasan, televisi telah mampu membius para pemirsanya terutama remaja untuk terus menyaksikan acara demi acara yang dikemas sedemikian rupa. Tidak jarang sekarang ini banyak remaja lebih suka berlama-lama di depan televisi daripada belajar, atau bahkan banyak remaja yang hampir lupa akan waktu makannya karena televisi. Ini merupakan suatu masalah yang terjadi di lingkungan kita sekarang, dan perlu diperhatikan khusus bagi setiap orang tua untuk selalu mengawasi aktivitas anaknya.
Sebagian besar tayangan televisi adalah sinetron dimana terkandung begitu banyak adegan-adegan kekerasan baik fisik maupun mental, yang dapat mempengaruhi perilaku anak-anak yang gemar menonton televisi. Dengan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi pada saat ini, moral bangsa tengah diperngaruhi . Dalam karya ilmiah ini akan dibahasPengaruh tayangan Televisi terhadap Perkembangan Perilaku dan Komunikasi Remaja”.





PEMBAHASAN

A.      Kajian Pustaka
a.       Gambaran Secara Umum Tayangan Televisi
1.       Pengertian Televisi
Menurut Onong Uchjana Effendi (1993:171) televisi adalah paduan antara radio (broadcast) dan film (moving ficture). Sedangkan menurut W.J.S Poerwadarminta (1985: 1038adalah penyiaran, pertunjukan disebut dengan radio dan dengan alat penerima, pertunjukan tadi diwujudkan dengan gambaran hidup. Disisi lain Sudarman Damin (1994 : 20) mengatakan televisi adalah alat elektronik yang berfungsi menyebarkan gambar dan diikuti oleh suara tertentu dan pada dasarnya sama gambar hidup bersuara. Menurut KBBI (2001:919) televisi adalah pesawat sistem penyiaran gambar objek yang bergerak yang disertai dengan bunyi (suara) melalui kabel atau melalui angkasa dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat didengar, digunakan untuk penyiaran pertunjukan, berita, dan sebagainya.
2.       Sejarah Singkat Televisi
Bermula ditemukannya electrische telekop sebagai perwujudan gagasan seorang mahasiswa dari Berlin (Jerman Timur) yang bernama Paul Nipkow. Untuk mengirim gambar melalui udara dari satu tempat ke tempat yang lain. Hal ini terjadi antara tahun1883-1884. Akhirnya Nipkow diakui sebagai bapak televisi. Akan tetapi televisi baru bisa dinikmati oleh pihak publik ketika khalayak dapat menonton siaran rapat dewan keamanan PBB digedung olah raga perguruan tinggi Hunter, New York pada tahun 1946. Para wartawan dan undangan pada saat itu bukan hanya tertarik dengan perdebatan yang ada akan tetapi juga tertarik dengan suatu alat baru yang membuat mereka lebih jelas menyaksikan apa yang terjadi dalam persidangan walaupun terhalang oleh dinding. Sejak saat itu televisi mengalami perkembangan yang sangat pesat. Mulai dari Amerika, Inggris dan di Indonesia.
Kotak televisi pertama kali dijual secara komersial sejak tahun 1920-an, dan sejak saat itu televisi telah menjadi barang biasa di rumah, kantor bisnis, maupun institusi, khususnya sebagai sumber kebutuhan akan hiburan dan berita serta menjadi media periklanan. Sejak 1970-an, kemunculan kaset video, cakram laser, DVD dan kini cakram Blu-ray, juga menjadikan kotak televisi sebagai alat untuk untuk melihat materi siaran serta hasil rekaman. Dalam tahun-tahun terakhir, siaran televisi telah dapat diakses melalui Internet, misalnya melalui iPlayer dan Hulu.
Sekelompok keluarga berkebangsaan Amerika sedang menonton TV, 1958
Walaupun terdapat bentuk televisi lain seperti televisi sirkuit tertutup, namun jenis televisi yang paling sering digunakan adalah televisi penyiaran, yang dibuat berdasarkan sistem penyiaran radio yang dikembangkan sekitar tahun 1920-an, menggunakan pemancar frekuensi radio berkekuatan tinggi untuk memancarkan gelombang televisi ke penerima gelombang televisi. Penyiaran TV biasanya disebarkan melalui gelombang radio VHF dan UHF dalam jalur frekuensi yang ditetapkan antara 54-890 megahertz[1]. Kini gelombang TV juga sudah memancarkan jenis suara stereo ataupun bunyi keliling di banyak negara. Hingga tahun 2000, siaran TV dipancarkan dalam bentuk gelombang analog, tetapi belakangan ini perusahaan siaran publik maupun swasta kini beralih ke teknologi penyiaran digital.
Sebuah kotak televisi terdiri dari bermacam-macam sirkuit elektronik didalamnya, termasuk di antaranya sirkuit penerima dan penangkap gelombang penyiaran. Perangkat tampilan visual yang tidak memiliki perangkat penerima sinyal biasanya disebut sebagai monitor, bukannya televisi. Sebuah sistem televisi dapat dipakai dalam berbagai penggunaan teknologi seperti analog (PAL, NTSC, SECAM), digital (DVB, ATSC, ISDB dsb.) ataupun definisi tinggi (HDTV). Sistem televisi kini juga digunakan untuk pengamatan suatu peristiwa, pengontrolan proses industri, dan pengarahan senjata, terutama untuk tempat-tempat yang biasanya terlalu berbahaya untuk diobservasi secara langsung. Televisi amatir (ham TV atau ATV) digunakan untuk kegiatan percobaan dan hiburan publik yang dijalankan oleh operator radio amatir. Stasiun TV amatir telah digunakan pada kawasan perkotaan sebelum kemunculan stasiun TV komersial. Di Indonesia, televisi pertama kali dikenalkan pada 1962, ketika Indonesia mendapat kehormatan untuk menyelenggarakan pesta olahraga Asian Games di Jakarta. Pasa saat itu jangkauan siaran TVRI hanya jakarta dan Bogor dan sekitarnya dengan radius 80 km dan penyiaran 2 jam per hari. Tetapi dengan penambahan jaringan 200 km dengan kapasitas transmitter 25 watt, TVRI dapat diterima di Bandung dan beberapa daerah lainnya di Jawa Barat. Perkembangan terjadi pada tahun 1965 TVRI Yogyakarta diresmikan pemakaiannya. Disusul daerah lain seperti Medan (1970), Balikpapan (1973), dan Palembang (1974). Dengan digunakannya satelit komunikasi Palapa sejak tahuun 1976, pemilikan media televisi di Indonesia meningkat tajam. Pada tahun 1997, jumlah stasiun televisi di Indonesia berkembang pesat, ditambah jaringan televisi dengan siaran-siaran yang global dan sajian dari bermacam-macam acara. Sekarang ini hampir seluruh rumah tangga memiliki televisi bahkan ada yang memiliki 2 televisi sekaligus.
3.       Fungsi Televisi
Fungsi dari televisi jika dilihat kesesuaiannya berdasarkan UU No. 24 tahun 1997, BAB II pasal 5 berbunyi :
“Penyiaran mempunyai fungsi sebagai media informasi dan penerangan, pendidikan dan hiburan, yang memperkuat ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya serta pertahanan dan keamanan.” Sehingga dapat dideskripsikan fungsi dari televisi sebagai media informasi dan penerangan, media pendidikan dan hiburan, media untuk memperkuat ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan media pertahanan dan keamanan.” (UU No. 24 tahun 1997)
Sebenarnya televisi memiliki beberapa fungsi, yaitu :
a.       Fungsi rekreatif
Fungsi rekreatif maksudnya ialah televisi dapat memberikan hiburan yang sehat kepada pemirsanya, karena manusia adalah makhluk yang membutuhkan hiburan.
b.      Fungsi edukatif
Selain untuk menghibur, televisi juga berperan memberikan pengetahuan kepada penontonnya lewat tayangan yang ditampilkan.
c.       Fungsi informatif
Televisi dapat menyebarkan berita sangat cepat. Dengan adanya media televisi manusia memperoleh kesempatan untuk memperoleh informasi yang lebih baik tentang apa yang terjadi di tempat lain. Dengan menonton televisi akan menambahkan wawasan kita.


b.      Pengertian Kekerasan
Kekerasan adalah tindakan yang tidak pantas dilakukan jika tidak memiliki alasan yang kuat dan jelas. Menurut P. Larellier ‘kekerasan dapat didefinisikan sebagai prinsip tindakan yang mendasarkan diri pada kekuatan untuk memaksa pihak lain tanpa persetujuan’ (Haryatmoko 2007). Istilah “kekerasan” juga mengandung kecendrungan agresif untuk melakukan prilaku yang merusak. Dalam kekerasan terkandung unsur dominasi terhadap pihak lain dalam berbagai bentuknya: fisik, verbal, moral, psikologis, atau melalui media gambar. Penggunaan kekuatan, manipulasi, fitnah, pemberitaan yang tidak benar, pengkondisian yang merugikan, kata-kata yang memojokkan, penghinaan merupakan salah satu ungkapan nyata kekerasan.
Menurut Dwyer (dalam Jahja & Irvan, 2006) menyatakan bahwa sebagai media audiovisual, televisi mampu merebut 94% saluran masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia lewat mata dan telinga. Televisi juga berkemampuan membuat seseorang  pada umumnya, mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan dengar dari layar televisi walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau secara umum seseorang akan mengingat 85% dari apa yang mereka lihat di televisi setelah 3 (tiga) jam kemudian, dan 65% setelah 3 (tiga) hari kemudian. Menurut Baron, Byrne, & Branscombe (2006), ketika menonton televisi, individu dapat mengidentifikasikan diri terhadap tokoh dalam tayangan program televisi tersebut. Dalam hal ini, adanya sebuah reaksi emosional yang muncul terhadap kegembiraan (joys), dukacita (sorrows), dan ketakutan (fears) yang dialami oleh tokoh tersebut. Selain itu dampak lain dari tayangan kekerasan yang berulang-ulang adalah munculnya rasa ketidakpekaan terhadap kekerasan. Para remaja yang cukup sulit untuk mencari identitas diri mereka apabila melihat tayangan kekerasan berulang-ulang maka mereka melihat hal itu seakan menjadi hal yang biasa. Mereka juga menjadi tidak peduli terhadap kekerasan yang terjadi di dunia nyata. Inilah yang disebut dengan efek  desensitisation tayangan kekerasan di televisi (Pikiran Rakyat, 2006).




c.       Pengertian Remaja



Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologis, perubahan psikologis, dan perubahan sosial. Remaja sering kali didefinisikan sebagai periode transisi antara masa kanak-kanak ke masa dewasa, atau masa usia belasan tahun, atau seseorang yang menunjukkan tingkah laku tertentu seperti susah diatur, mudah terangsang perasaannya dan sebagainya. Kartini Kartono (1995: 148) “masa remaja disebut pula sebagai penghubung antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa”. Pada periode ini terjadi perubahan-perubahan besar dan esensial mengenai kematangan fungsi-fungsi rohaniah dan jasmaniah, terutama fungsi seksual.
Batasan Usia Remaja Terdapat batasan usia pada masa remaja yang difokuskan pada upaya meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan untuk mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku dewasa. Menurut Kartini Kartono (1995: 36) dibagi tiga yaitu:
a.       Remaja Awal (12-15 Tahun)
Pada masa ini, remaja mengalami perubahan jasmani yang sangat pesat dan perkembangan intelektual yang sangat intensif, sehingga minat anak pada dunia luar sangat besar dan pada saat ini remaja tidak mau dianggap kanak-kanak lagi namun belum bisa meninggalkan pola kekanak-kanakannya. Selain itu pada masa ini remaja sering merasa sunyi, ragu-ragu, tidak stabil, tidak puas dan merasa kecewa.  
b.      Remaja Pertengahan (15-18 Tahun)
Kepribadian remaja pada masa ini masih kekanak-kanakan tetapi pada masa remaja ini timbul unsur baru yaitu kesadaran akan kepribadian dan kehidupan badaniah sendiri. Remaja mulai menentukan nilai-nilai tertentu dan melakukan perenungan terhadap pemikiran filosofis dan etis. Maka dari perasaan yang penuh keraguan pada masa remaja awal ini rentan akan timbul kemantapan pada diri sendiri. Rasa percaya diri pada remaja menimbulkan kesanggupan pada dirinya untuk melakukan penilaian terhadap tingkah laku yang dilakukannya. Selain itu pada masa ini remaja menemukan diri sendiri atau jati dirnya.
c. Remaja Akhir (18-21 Tahun)
Pada masa ini remaja sudah mantap dan stabil. Remaja sudah mengenal dirinya dan ingin hidup dengan pola hidup yang digariskan sendiri dengan keberanian. Remaja mulai memahami arah hidupnya dan menyadari tujuan hidupnya. Remaja sudah mempunyai  pendirian tertentu berdasarkan satu pola yang jelas yang baru ditemukannya. Remaja memelukan media katarsis dalam proses perkembangannya. Teori Katarsis  pertama kali diperkenalkan pada kisaran awal tahun 1960 dalam tulisan berjudul  The  stimulating versus catharsis effect of a vicarious aggressive activity”  yang dipublikasikan dalam journal of “Abnormal Social Psychology”. Konsep teori ini berdiri diatas psikoanalisa Sigmund Freud, yaitu emosi yang tertahan bisa menyebabkan ledakan emosi yang berlebihan, maka dari itu diperlukan sebuah penyaluran atas emosi yang tertahan tersebut. Penyaluran emosi yang konstruktif ini disebut dengan katarsis. Katharsis yang merupakan penyaluran emosi dan agresi yang bias berupa kekesalan, kesedihan, kebahagiaan, impian dan lainnya ini dilakukan dengan pengalaman wakilan (vicarious experience) seperti mimpi, lelucon, fantasi atau khayalan. Dalam konteks ini, seseorang tidak melakukan penyaluran emosi dan agresi-nya secara nyata oleh individu tersebut, melainkan dilakukan hanya melihat atau membayangkan sesuatu tersebut dilakukan, atau dengan istialah lain yaitu pengalaman wakilan. Seperti contoh ketika seorang remaja menonton smack down, remaja tersebut membayangkan dirinya adalah seorang pemain smack down dengan ditonton oleh ribuan penonton.
Dari definisi di atas karena remaja yang sedang mencari jati diri mereka, mereka membayangkan tokoh atau sosok yang dianggap keren atau menjadi panutan mereka. Sosok yang dijadikan panutan tersebut yang terlalu melekat didalam benak remaja yang membuat mereka menirukan apa yang dilakukan dari sosok tersebut.
d.      Pengertian Komunikasi Antar Pribadi
Komunikasi antarpribadi adalah proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih secara tatap muka (Cangara, 2004:31). Komunikasi berlangsung secara diadik (secara dua arah/timbale balik) yang dapat dulakukan dalam tiga bentuk, yakni percakapan, dialog dan wawancara. Percakapan berlangsung dalam suasana yang bersahabat dan informal. Komunikasi antarpribadi sangat potensial untuk mempengaruhi atau membujuk orang lain, karena dapat menggunakan kelima alat indra untuk mempertinggi daya bujuk pesan yang kita komunikasikan. Sebagai komunikasi yang paling lengkap dan paling sempurna, komunikasi antarpribadi berperan penting sehingga kapan pun, selama manusia masih memiliki emosi.
1.       Tujuan Komunikasi Antarpribadi
Adapun fungsi dari komunikasi antarpribadi adalah berusaha meningkatkan hubungan insani (human relation), menghindari dan mengatasi konflik-konflik pribadi, mengurangi ketidakpastian sesuatu, serta berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain (Cangara, 2004:33). Komunikasi antarpribadi dapat meningkatkan hubungan kemanusiaan di antara pihak-pihak yang berkomunikasi. Dalam hidup bermasyarakat seseorang bisa memperoleh kemudahaan dalam hidupnya karena memiliki banyak sahabat. Melalui komunikasi antarpribadi, seseorang juga dapat berusaha membina hubungan yang baik, sehingga menghindari dan mengatasi terjadinya konflik dengan orang lain.
2.       Ciri Komunikasi Antarpribadi 
Komunikasi antarpribadi sebenarnya merupakan suatu proses sosial di mana orang-orang yang terlibat di dalamnya saling mempengaruhi. Sebagaimana yang dinyatakan oleh De Vito (dalam Aloliliweri 1997:12) bahwa komunikasi antarpribadi merupakan pengiriman pesan-pesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain, atau sekelompok orang dengan efek dan umpan balik yang langsung. Menurut Everet M.Rogers ada beberapa cirri komunikasi yang menggunakan saluran komunikasi antarpribadi (Liliweri, 1997:13) :
- Arus pesan yang cenderung dua arah
- Konteks komunikasinya dua arah
- Tingkat umpan balik yang terjadi tinggi
- Kemampuan mengatasi tingkat selektivitas yang tinggi
- Kecepatan jangkauan terhadap audience yang besar relative lambat
- Efek yang mungkin terjadi adalah perubahan sikap




B.      Pengaruh Tayangan Kekerasan terhadap Perilaku Remaja

Penayangan film dan berita kekerasan di media tentu saja akan memberi dampak negatif, terutama bagi anak-anak dan remaja. Tayangan kekerasan seperti aksi penembakan dan sebagainya akan ditiru oleh pemirsa yang sebagian besar adalah anak-anak dan pelajar. Perkembangan teknologi informasi dan tumbuh suburnya berbagai media penyiaran tidak seluruhnya berdampak positif bagi masyarakat. Jika tidak pintar-pintar memilah dan memilih tayangan, khususnya untuk anggota keluarga akan mudah terimitasi pada tayangan yang dapat memberi efek negatif, baik itu yang mengarah pada kekerasan, konsumerisme dan sikap antisosial. Berdasarkan kajian psikologi komunikasi tayangan-tayangan televisi menawarkan atau menyajikan pesan-pesan yang akan menstimulus organisme penontonnya. Stimulus pesan-pesan televisi ini sebelum menimbulkan respon akan mengendap di organisme penontonnya setelah melalui tahapan perhatian, pengertian, dan penerimaan. Bagi penonton dewasa tentu efek negatif yang ditimbulkan tidak begitu besar dibandingkan penonton anak-anak atau remaja. Menurut Valentine (2009) pengaruh televise terhadap remaja ada dua yakni pengaruh pada sikap yaitu tokoh pada televisi biasanya di gambarkan dengan berbagai stereotif dan pengaruh pada perilaku yaitu keinginan anak untuk meniru.
Pada anak-anak komponen organisme (daya pikir) masih labil. Artinya, pesan-pesan tayangan televisi memberikan memori yang cepat atau lambat mempengaruhi perilaku yang ditimbulkan. Dengan kata lain sebagaimana karakter anak-anak akan meniru apa yang telah dilihatnya di televisi. Artinya, tayangan televisi sesuai dengan teori modeling akan menjadi model perilaku anak-anak.
Ketergantungan terhadap televisi terjadi pada seluruh kalangan usia khususnya kalangan remaja.Ketertarikan remaja untuk menonton televisi didorong oleh faktor rasa keingintahuan yang kuat akan segala sesuatu hal yang baru bagi remaja dilingkungan sekitar mereka. Kita mendengar ada banyak kasus dimana anak membanting temannya sendiri karena meniru adegan “smackdown” yang ditontonnya. Seorang anak yang menendang dan membanting beberapa temannya ke lantai hingga sakit karena meniru adegan smackdown yang sering ditontonnya di televisi. Orangtua korban ada yang tidak mau terima dan melaporkan ke sekolah hingga perlu upaya perdamaian yang cukup alot antara orangtua korban dengan orangtua pelaku. Bahkan banyak remaja SMP maupun SMA terlibat dalam perkelahian atau tawuran antar pelajar yang menyebabkan kerugian dan korban jiwa. Hal ini diakibatkan karena tayangn televisi yang sering menontonkan adegan kekerasan dan berita-berita kekerasan.
Televisi memiliki kekuatan visualisasi luar biasa yang bisa memengaruhi penonton untuk meniru apa yang ditayangkan. Apalagi jika penontonnya adalah kalangan anak-anak dan remaja akan sangat mudah terpengaruh. Anak-anak sangat rentan dalam menghadapi kekerasan, cenderung menjadi takut, cemas dan merasa tidak aman. Selain kecemasan, tayangan kekerasan akan memicu trauma dalam diri anak, bahkan memicu prilaku agresif pada mereka. Hasil penelitian terhadap remaja menunjukkan bahwa menyaksikan aksi kekerasan di televisi akan mendorong otak mereka untuk memperlihatkan reaksi yang serupa ketika anak melihat kekerasan di dunia nyata. Televisi telah mengakar keberbagai kalangan dalam masyarakat, termasuk para remaja. Televisi dalam hal ini sangat mempengaruhi remaja, ditambah lagi makin banyaknya tayangan-tayangan yang bernuansakan percintaan yang dilakoni oleh remaja pula. Hal ini tentu memberikan dampak yang tidak baik bagi remaja, selain bisa menimbulkan sikap dan prilaku yang tidak senonoh, baik dari cara bepakaian, sampai segala sesuatu yang dipakai oleh mereka.



C.      Pengaruh Tayangan Televisi terhadap Komunikasi Antar Pribadi Remaja
Kelebihan yang dimiliki oleh televisi dalam menyebarkan informasi dan menghibur khalayak dibandingkan dengan media massa yang lain menjadi faktor penting alasan keterkaitan khalayak dalam memenuhi kebutuhan mereka akan informasi, pengetahuan dan hiburan. Mereka mempresepsikan bahwa seluruh informasi yang mereka dapatkan dari televisi adalah benar. Mereka menganggap merasa dengan menonton televisi mereka dapatberkomunikasi dengan banyak orang. Sehingga mereka lebih senang menonton televisi dari pada membaca buku.  Tayangan televisi sangat berpengaruh terhadap komunikasi remaja. Pasalnya tayangan televisi yang beraneka ragam dan menarik membuat remaja yang pikiran nya masih labil akan terus menonton televisi dan hal tersebut menyebabkan kurangnya komunikasi remaja untuk berinteraksi dengan yang lain. Saat mereka saling berinteraksi satu sama lain, remaja yang sering menonton tayangan kekerasan di televisi bisa bersikap brutal atau ia mengikuti perilaku yang ada di tayangan tersebut.
Dampak dari tayangan kekerasan adalah membuat anak kesulitan untuk membedakan antara fantasi dan kehidupan nyata. Selain itu sensitifitas mereka menurun ketika menyaksikan tindakan kekerasan terjadi, atau bahkan sebaliknya melihat kehidupan itu lebih menakutkan dari realitas yang sebenarnya. Tanpa sadar, apa yang mereka tonton dan juga mainkan akan mempengaruhi cara berpikir dan juga cara mereka memandang kehidupan.


PENUTUP

1.       Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang tertera diatas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa tayangan media elektronik terutama televisi memiliki pengaruh yang besar terhadap pola pikir masyarakat terutama anak-anak dan remaja. Tayangan kekerasan dapat menimbulkan perilaku agresif pada remaja. Terdapat keterkaitan antara pengaruh dari kegiatan menonton televisi dengan prilaku remaja. Dan dari studi literatur dapat disimpulkan bahwa tayangan kekerasan mempengaruhi prilaku agresif remaja. Masa remaja merupakan masa dimana remaja sedang mencari identitas, maka dengan mudah terpengaruh faktor luar. Frekuensi menonton tayangan kekerasan yang sering akan membuat remaja semakin terpacu untuk melakukan tindakan kekerasan. Dan dapat kita ketahui, remaja menjadi korban karena dibiarkan menyaring sendiri tayangan yang layak disaksikan dan yang tidak dapat disaksikan. Hal ini terlihat adanya perubahan perilaku baik berupa pengaruh positif maupun pengaruh negatif.
2.       Saran
Saran yang dapat diberikan oleh penulis dengan adanya pembahasan diatas adalah remaja lebih cermat dalam memilih informasi yang bermanfaat dan berdampak positif bagi dirinya sendiri. Disarankan agar remaja mencari kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat untuk mengurangi intensitas menonton televisi. Remaja sudah harus pintar dalam memilih lingkungan bergaul yang dapat membawa pengaruh negatif atau positif. Pihak televisi sebaiknya mengontrol tayangannya agar tidak menampilkan tayangan yang terlalu banyak menampilkan adegan kekerasan.



DAFTAR PUSTAKA

·         Cangara, Hafied.2012.Pengantar Ilmu Komunikasi.PT Raja Grafindo Persada.Jakarta
·         Sumanto.2014.Psikologi Komunikasi.PT Buku Seru.Jakarta
·         Pengertian Komunikasi Antar Pribadi. http://repository.usu.ac.id .
·         Pengaruh Menonton Tayangan Kekerasan pada Tingkat Imitasi Perilaku Remaja. www.academia.edu .

No comments:

Post a Comment

Selamat Berkunjung, Trimakasih